Saturday, June 7, 2008
Isu Razia Software: Cara Efektif Mendongkrak Popularitas Software Asli & Open Source
Terus terang ketika berita ini pertama kali beredar di milis, saya sempat meragukan kebenarannya. Pikir saya, apa ya setiap orang akan digeledah seperti itu? Berapa banyak yang akan digeledah? Berapa lama akan makan waktu? Hampir setiap orang - khususnya pelajar, karyawan, dan pengusaha - memiliki dan membawa laptop ke mana pun mereka bepergian. Wah tentu Bandara akan sibuk sekali ya, pikir saya. There's something fishy about this news. Tapi saya sempat termakan berita juga. Jangan-jangan berita itu benar.
Belakangan, kita tahu - lagi-lagi lewat berita milis yang di-forward ke email kita dan katanya lagi dikutip dari Tempo - ternyata itu semua hanya isapan jempol alias isu belaka. Lalu untuk mencari kebenarannya, saya coba untuk copy paste judul berita itu ("Kabar Razia Laptop Hanya Isapan Jempol") di situs majalah dan koran Tempo. Kok nggak ketemu ya? Saya coba lagi copy paste ke search engines. Lagi-lagi judul itu hanya muncul di situs-situs blog dan tidak di situs-situs media masa resmi. Walhasil, sekarang saya jadi paranoid dengan berita-berita yang beredar di milis. Tidak semuanya benar tapi tokh masih saja banyak yang menelan mentah-mentah berita yang beredar. Memang milis adalah tempat yang sangat efisien untuk menyebar berita. Perkara benar atau tidaknya urusan belakang, yang penting orang shock dulu. Kasihan ya para miliser-miliser yang jujur dan tidak berburuk sangka pada orang lain. Mereka percaya begitu saja bahwa si penyebar berita adalah orang yang jujur berkata apa adanya dan mereka berterima kasih kepada orang tersebut karena telah bersedia berbagi informasi (walaupun informasi yang salah dan menyesatkan).
Lepas dari peran milis yang cukup efisien dalam menyebarkan berita (tidak) benar, hal lain yang patut disoroti dari sudut pandang lain adalah keefektifan isu razia itu sendiri dalam mempengaruhi masyarakat untuk mempertimbangkan kemungkinan uninstall software bajakannya dan install yang asli. Isu razia ini sebetulnya alat yang cukup efektif untuk mendukung pemasaran produk software asli atau bahkan mendongkrak popularitas software open source. Jelas yang menghembuskan isu itu (kalau memang ternyata tidak benar berita razia ini) adalah pihak yang akan mendapat keuntungan dari kepanikan ini semua. Siapa mereka? Kemungkinannya: (1) perusahaan yang software-nya laris dibajak dan bos-nya baru saja datang ke Indonesia beberapa waktu lalu atau (2) para pencipta software open source sebagai counterpart perusahaan yang disebut pertama tadi. Maaf deh kalau ternyata bukan kedua-duanya. Kenapa saya berpikiran begitu? Karena ada dua reaksi yang mungkin segera diambil oleh masyarakat: (1) install software asli, atau (2) ganti dengan software open source. Jadi, si kelompok pertama beruntung karena dibeli produknya atau kelompok kedua juga beruntung karena pengguna produknya semakin banyak dan dengan demikian perlahan-lahan ia bisa menggusur dominasi kelompok pertama.
Isu tidak selamanya buruk bagi bisnis karena ada nosi yang mengatakan: There's no such thing as bad publication. Publikasi yang buruk pun tetap ada manfaatnya ternyata buat bisnis suatu perusahaan. Contoh: masyarakat bisa saja nyumpah-nyumpahin Microsoft dan menuduh bahwa razia software ini adalah hasil dari kedatangan Bill Gates ke Indonesia tapi pada akhirnya mereka jadi mempertimbangkan untuk beli dan install yang asli. Daripada kena Rp 9,5 juta, mending keluar 2 jutaan tapi lolos razia. Siapa lagi yang untung? Microsoft kan?
Kesimpulannya, isu-isu yang beredar di masyarakat adalah alat yang efektif dalam mempengaruhi sikap dan perilaku konsumen. Tidak penting apakah konsumen melakukannya karena faktor terpaksa atau takut, yang penting the business is making money after all. Itu pelajaran yang saya petik dari isu razia software ini.
PS. Maaf kalau ada yang namanya disebut dan tersinggung. Ini analisis saya semata. It's a 'freedom of speech' era isn't it? Psst, tapi ngomong-ngomong dia nggak paham bahasa Indonesia kan ya? :) Peace..
Friday, May 30, 2008
Media TV = Media Pembodohan Massal (in a way..)
Mari kita kupas kategori materi program televisi Indonesia saat ini. Mulai dari sinetron. Tolong beri saya satu judul sinetron yang benar-benar bermutu - sinetron yang benar-benar lebih banyak esensi edukasinya. Saya belum bisa menemukan satu pun, kecuali dulu pernah ada sinetron dengan judul "Kiamat Sudah Dekat" yang masuk kategori "Nice, quite educating and entertaining.." Atau mungkin saya yang jarang menyaksikan acara televisi belakangan ini sehingga sedikit 'ketinggalan jaman' dalam hal update acara terbaru. Tapi saya kok tetap yakin ya, belum ada sinetron yang betul-betul "Superb!". Coba perhatikan, bahasa-bahasa yang digunakan dalam sinetron, peng-karakterisasi-an peran-peran yang ada (kalau ada peran antagonis selalu digambarkan "juaahaat luar biasa" sampai-sampai saya berpikir rasa-rasanya hanya iblis yang bisa begitu!). Belum lagi adegan-adegan romance yang melibatkan usia yang semakin dini (sudah lazim kayaknya di sinetron anak SD cinta-cintaan). Masih ditambah bahasa tubuh yang pernah saya lihat di potongan iklan sinetron (kalau tidak salah judulnya "Mentari") yang di-adegan-kan oleh seorang anak perempuan usia SMP yang sangat tidak sopan ("f***k you" dengan menggunakan "fist instead of middle finger"). Saya kaget setengah mati! Ini sutradaranya yang geblek apa memang tidak tahu arti dari gesture itu? Kalau memang tidak tahu, mbok ya jangan sok tau! Nggak usah sok ngAmrik lah.. Dan betul-betul saya iba dengan orang yang tidak tahu tapi sangat ingin kelihatan gaul dengan gaya amrik-nya itu..
Lalu mari kita lihat jenis acara lainnya. Belakangan ini banyak sekali acara "lomba nyanyi" yang menggunakan polling sms dan ditayangkan marathon live, mulai dari pukul 17.00 sampai 23.00 dengan format acara yang sama persis satu sama lain: ada MC standby di atas panggung, 3 orang juri, MC kedua yang bertugas keliling studio, dan kadang-kadang ada karakter seperti "Mr.X" atau "Tuan Takur" atau apa lah sebutannya yang berperan sebagai semacam hakim. Tidak ada salahnya ada acara lomba nyanyi tapi terus terang yang model seperti ini benar-benar menghabiskan waktu, energi, dan uang! Bayangkan, selama hampir 5 jam kita 'terpaksa' mendengar banyolan-banyolan yang kadang-kadang terlalu lama dan bertele-tele. Sampai-sampai peserta yang ada di atas panggung pun salah tingkah, mati gaya karena bosan. Di mana edukasinya?
Lalu ada lagi acara-acara 'menyeramkan' - slot acara yang khusus melaporkan keberingasan, keporakporandaan, kejahatan kriminalitas, ke-barbar-an bangsa. Berita-berita mengerikan seperti kejahatan dan kecelakaan (dan seringkali di-shooting sang korban walaupun gambarnya dikaburkan) yang bikin merinding dan hati tak nyaman ditayangkan di siang hari bolong - pada saat orang-orang kelelahan bekerja, dehidrasi karena berkeringat sampai pikiran terasa kosong. Bukannya dapat tampilan yang menyenangkan dan melegakan hati, eh malah disuguhi visualisasi dan cerita yang sangat menyiutkan hati dan nyali. Ada kolega saya yang bilang justru acara itu bagus karena membuat kita waspada. Menurut saya: sama sekali tidak! Bukannya waspada, tapi malah hidup dalam was-was, cemas. Jangan lupa, sebagian besar masyarakat kita masih butuh pendidikan yang benar sehingga dapat menyikapi hidup dengan optimis. Jadi, kalau masayarakat kita disuapi acara-acara yang bernada pesimis seperti itu, bagaimana bisa jadi bangsa yang progresif dan optimis???
Ada lagi tipe acara yang benar-benar menunjukkan semangat "kebersamaan dan keberbagian" yang luar biasa, sampai-sampai aib siapa pun yang populer di muka bumi Indonesia ini dengan indahnya diinformasikan ke publik. Benar-benar cirikhas "kebersamaan" atau collectivism ala Geert Hofstede diaplikasikan sampai ke akar-akarnya. Luar biasa! Satu lagi (dari tadi satu lagi tapi tambah terus): ada kebiasaan 'mistis' yang selalu melekat kepada pemberitaan-pemberitaan infotainment. Selalu ada peluang untuk meninjau atau 'menerawang' masalah yang dihadapi dari sisi 'dunia lain' dengan bertanya kepada orang-orang yang dianggap tahu masa depan. Hebat ya? They're playing God! Pada saat masyarakat Indonesia ini masih banyak dipengaruhi oleh pemikiran irasional, tayangan-tayangan dan pendapat-pendapat liar yang dilatarbelakangi oleh pemikiran 'dunia lain' semakin memperkuat pemikiran dan sikap irasional masyarakat kita. Seolah-olah pemikiran semacam itu adalah benar, hakiki, dan tidak boleh hilang dari kultur Indonesia. Menakjubkan! Dan kita masih ingin bangsa ini maju?
Berpikirlah kembali! Atau mungkin lebih tepatnya, kenali dulu apa sebetulnya yang ingin dicapai bangsa kita, baru kemudian kita bisa menentukan ke arah mana langkah kaki ini harus diayunkan.
Sunday, April 13, 2008
Belajar di Luar Negeri dan Pendanaannya - Bag 2
Di bagian pertama dari seri “Studying and Funding Your Study Abroad” saya sudah uraikan beberapa macam beasiswa yang dapat dimanfaatkan untuk mendanai pendidikan Anda di luar negeri. Seri pertama memang khusus mengulas pendanaan melalui beasiswa. Pada seri kedua ini, saya akan uraikan cara lain untuk mendanai pendidikan Anda (secara legal tentunya!) di luar negeri. Karena apa yang saya tulis ini merupakan pengalaman yang sudah saya jalani, maka mohon maaf jika secara geografis bahasan saya kali ini hanya terbatas pada konteks pendidikan di Amerika Serikat dan pada konteks jenjang pendidikan S-2/graduate level. Mungkin nanti jika ada informasi lain tentang pendanaan pendidikan non-beasiswa di negara lain selain AS dan bukan hanya untuk S-2/graduate level yang bermanfaat, segera akan saya posting di sini.
Baiklah, anggap saja alternatif pertama - beasiswa - bukanlah hal yang tepat untuk Anda untuk satu dan lain hal. Lantas bagaimana caranya agar impian Anda untuk bisa studi lanjut ke luar negeri tercapai? Tenang saja, masih ada cara lain. Sebelum kita mulai, perlu saya ingatkan terlebih dahulu bahwa pada alternatif kedua ini, Anda akan memerlukan sedikit ‘investasi’. Selain itu, ditinjau dari sisi ‘risiko’, alternatif kedua ini memiliki risiko lebih tinggi daripada pendanaan melalui beasiswa. Jangan terburu-buru alergi mendengar kata risiko. Kita semua tokh hidup dalam dunia yang penuh dengan risiko. Jadi pada prinsipnya tanpa disadari kita selalu hidup dengan risiko. Masalahnya kita jarang membahasnya sehingga ketika kata ‘risiko’ diperdengarkan, seolah-olah kita akan menghadapi suatu bahaya besar padahal mungkin kenyataannya tidak seburuk itu.
Di Amerika Serikat banyak sekali peluang-peluang untuk mendapatkan pekerjaan di kampus yang sekaligus dapat membayar uang sekolah Anda. Jika Anda beruntung, maka bukan hanya uang sekolah Anda tetapi juga uang saku yang cukup untuk memenuhi kebutuhan minimal Anda. Peluang macam apa itu? Peluang untuk bekerja sebagai (Graduate) Research Assistant dan/atau Teaching Assistant. Mengapa saya memberi tanda ( ) pada istilah Graduate? Karena memang posisi ini diperuntukkan bagi mereka yang terdaftar pada jenjang program S-2/graduate level. Biasanya posisi ini memberi manfaat kepada penjabatnya dua hal: biaya pendidikan digratiskan dan gaji/upah (Tuition waiver + stipend). Menarik sekali bukan? Memang, justru karena menarik itulah maka posisi ini adalah posisi kompetitif, yang artinya Anda harus bersaing dengan sejumlah orang yang juga mengincar posisi ini.
Untuk program S-2, posisi yang seringkali ditawarkan adalah GRA atau graduate research assistantship. Di universitas tempat saya belajar dahulu - Georgia State University - ada 3 tingkat GRA: GRA I, GRA II, dan GRA III. Dari ketiga macam GRA tersebut, GRA I yang paling rendah. Yang membedakan di antara ketiga level tersebut adalah nilai gajinya. Semuanya tetap memberikan manfaat penghapusan biaya pendidikan. Untuk GRA I: nilai gaji (stipend) US$ 600/quarter (3 bulan), GRA II: US$ 1,200/quarter, dan GRA III: US$ 1,800/quarter. Posisi GRA III diperuntukkan untuk mahasiswa PhD dan biasanya dikombinasikan dengan posisi Teaching Assistant/TA. Posisi TA ini mengharuskan Anda mengajar/mengampu kelas di jenjang S-1/undergraduate study.
Tarif yang saya sampaikan tersebut adalah tarif 10 tahun yang lalu. Saya yakin sekarang sudah meningkat. Informasi terakhir yang saya peroleh, posisi GRA III untuk program PhD di jurusan Marketing adalah sebesar US$ 15,000/tahun (perbulannya sekitar US$ 1,250). Setiap universitas berbeda tingkat gajinya. Di Harvard, kalau tidak salah sekitar US$ 25,000 - 30,000/tahun. Contoh lagi, di Georgia State University (dan mungkin juga di kebanyakan universitas lain), setiap mahasiswa PhD yang diterima dan terdaftar di program PhD otomatis akan mendapat posisi GRA tersebut, dan setelah tahun kedua mereka boleh mengajar sebagai TA (insentif finansial tambahan yang menarik tentunya). Tentu saja Anda harus menjaga prestasi belajar Anda sesuai dengan yang seharusnya. Jadi dengan begitu, kesimpulannya, studi lanjut ke jenjang S-3 di mayoritas universitas di Amerika Serikat gratis! Ada ‘tapi’-nya: untuk masuk ke program S-3 tidak mudah karena tentu saja banyak persyaratan yang lebih berat daripada masuk ke program S-2. Contoh: TOEFL score min. 600, GMAT score (untuk program Business Administration) min. 600 juga, rekomendasi yang kuat dari profesor di program sebelumnya, daftar publikasi artikel dan riset yang pernah dilakukan, dan lain sebagainya.
Bagaimana dengan program S-2? Seperti yang sudah saya ulas sedikit, untuk program S-2 bentuk GRA-nya berbeda dengan S-3. Di program S-2, pemegang GRA tidak diijinkan untuk mengajar satu kelas secara penuh, tetapi masih dimungkinkan untuk menjadi tutor alias guru les privat. Tugas dan tanggung jawab apa saja yang tercakup dalam GRA untuk program S-2? Biasanya Anda akan diminta untuk menjadi asisten dosen - tidak dalam kapasitas untuk mengajar tetapi untuk menyiapkan materi-materi ajar. Anda juga akan diminta untuk membuat presentasi power point, website, atau data entry untuk riset yang dilakukan oleh dosen yang bersangkutan, serta beberapa tugas kecil lainnya - tergantung kepada sang dosen.
Walaupun begitu ada situasi lain di mana posisi GRA untuk program S-2 kadang-kadang mencakup lingkup kerja yang tidak berhubungan dengan dosen sama sekali. Contohnya adalah pengalaman pribadi saya sebagai GRA yang tidak berhubungan dengan dunia akademik sama sekali. Saya akan bercerita sedikit tentang hal itu.
Waktu itu - pada saat seluruh Asia dilanda krisis moneter tahun 1997 - saya dalam kondisi frustasi karena kiriman uang dari tempat saya bekerja di Indonesia selaku sponsor pendidikan saya sering terlambat. Bisa dipahami keterlambatan tersebut. Saat itu nilai tukar IDR/USD sempat mencapai Rp 17.000,-/US$ 1!! Bagaimana tidak berat, dalam hitungan bulan devaluasi mata uang Indonesia menukik dengan tajam, dari US$1=Rp 2.600 sampai US$1=Rp 12.000,- hanya dalam hitungan bulan! Akhirnya daripada saya drop out, lebih baik saya bergerak melakukan sesuatu. Kebetulan sekali pada saat yang bersamaan ada lowongan untuk posisi GRA II tetapi tidak ditempatkan di fakultas tertentu sebagai asisten dosen melainkan untuk ditempatkan di Office of International Students and Programs - sebuah kantor di dalam universitas yang bertanggung jawab atas segala urusan yang menyangkut para mahasiswa internasional. Singkat cerita, alhamdulillah, saya diterima di posisi itu. Saya berperan sebagai Assistant of Event and Program Officer. Ruang lingkup tugas saya seputar pelaksana lapangan untuk program-program yang diselenggarakan oleh kantor tersebut seperti program orientasi mahasiswa baru, event-event yang mempromosikan kemulti-budayaan universitas kepada masyarakat lokal setempat, dan sebagainya. Bisa dibilang tugas saya hampir mirip seperti event organizer. Memang tidak sesederhana EO karena ada tugas-tugas tertentu yang mengharuskan saya melakukan fungsi riset atau investigasi sederhana seperti polling dsb. Walaupun begitu, tetap saja bagi saya menyenangkan mendapatkan peluang tersebut karena pada akhirnya saya selesai studi hanya mengandalkan pendapatan sebagai GRA. Suatu solusi yang sama-sama menguntungkan baik bagi saya karena selamat dari dropout maupun bagi tempat kerja saya yang semula berperan sebagai sponsor karena tidak harus menanggung biaya menyekolahkan saya lagi.
Nah, tadi saya nyatakan di awal bahwa alternatif kedua ini membutuhkan ‘investasi’ dan ‘risiko’. Investasi yang mungkin harus Anda lakukan adalah Anda harus bisa diterima terlebih dahulu di universitas yang Anda inginkan. Untuk itu, Anda harus memenuhi semua persyaratannya termasuk financial affidavit atau bukti kemampuan finansial. Ini dapat diatasi dengan dua hal: 1. Anda memang harus mempunyai uang sendiri yang dialokasikan untuk pendidikan Anda setidaknya untuk satu tahun pertama, atau 2. Anda meminjam dana relasi Anda untuk ditransfer ke rekening Anda secara sementara atau meminjam rekening relasi Anda untuk dijadikan sebagai financial affidavit. Tentu saja sebaiknya relasi ini adalah orang dekat Anda yang bersedia membantu Anda hanya untuk bisa diterima terlebih dahulu. Setelah Anda diterima, berangkat dan tiba di AS, sejak hari pertama Anda kuliah segeralah mencari peluang GRA tersebut supaya semester berikutnya Anda terbebas dari biaya pendidikan dan mendapat uang saku gratis. Itu tentu artinya untuk semester pertama Anda harus siap “investasi” biaya hidup dan pendidikan. Di sinilah maksud saya dengan ‘investasi’.
‘Risiko’ yang saya maksudkan tentu terkait dengan probabilitas Anda memperoleh posisi GRA tersebut. Selalu ada risiko bahwa Anda kalah kompetisi untuk mendapatkan posisi tersebut. Walaupun begitu, segala sesuatunya jauh lebih mudah apabila Anda sudah berada di sana. Anda masih dapat mengajukan pinjaman yang disebut ’student loan’, yaitu pinjaman dari universitas untuk biaya pendidikan Anda. Anda harus mengembalikan dana tersebut setelah Anda bekerja secara kredit. Lho, apakah saya bisa bekerja padahal saya tidak punya visa kerja? Itu reaksi Anda tentu saja. Setelah lulus, mahasiswa internasional diperbolehkan untuk menjalani practical training (magang kerja) pada perusahaan-perusahaan di AS selama 1 tahun. Kalau Anda berprestasi baik dan beruntung, atasan Anda mungkin saja akan mengaplikasikan visa kerja untuk Anda. Banyak teman-teman saya yang berhasil dengan cara itu. Khusus untuk topik visa kerja silakan kunjungi situs US Citizenship and Immigration Services ini. Karena tidak semua universitas menyediakan student loan, maka sebaiknya Anda banyak-banyak browsing mencari universitas yang memiliki program bantuan finansial yang kaya.
Adakah cara untuk mengurangi ‘investasi’ dan ‘risiko’ ini? Ada. Beberapa universitas yang bagus (baca: yang kaya akan program bantuan finansial dan fleksibel) memberikan kesempatan bagi Anda untuk mengajukan lamaran untuk posisi GRA bersamaan dengan lamaran untuk diterima di universitas tersebut. Salah satu teman seapartemen saya dulu, dari Bulgaria, mendapat kesempatan tersebut. Sejak di tanah airnya, dia melamar program S-2 Komunikasi Jurnalistik dan posisi GRA secara bersamaan. Ketika dia akhirnya diterima di program S-2 , dia juga mendapat posisi GRA tersebut sehingga ketika dia berangkat ke AS, dia lenggang kangkung tanpa harus khawatir tentang kondisi finansialnya. Untuk itu, ada 2 kata kunci yang saya sarankan kepada Anda adalah: 1. rajin-rajinlah browsing berbagai universitas dan kumpulkan informasi demi informasi dengan sangat teliti, 2. jangan ragu-ragu untuk menghubungi contact person di universitas yang bersangkutan dan aktiflah untuk berkomunikasi dengan mereka.
Setelah saya uraikan beberapa langkah alternatif untuk mendanai pendidikan lanjut Anda di luar negeri - khususnya di AS pada seri kedua ini - saya harap Anda terinspirasi untuk secara aktif berjuang mendapatkan kesempatan studi lanjut di luar negeri. Percayalah, ikhtiar yang serius akan mendatangkan hasil yang serius juga. Apa yang Anda terima pasti sebanding dengan pengorbanan yang Anda berikan. Jangan putus asa dan teruslah berjuang. Good luck and have a great one!
Belajar di Luar Negeri dan Pendanaannya - Bag 1
Pendidikan adalah satu kata kunci yang paling penting bagi keberhasilan suatu bangsa. Bukan karena saya dari dunia pendidikan pernyataan itu saya buat, tetapi faktanya memang dengan ilmu manusia akan kaya. Tentu saja ilmu yang bermanfaat, yang salah satunya diperoleh melalui pendidikan formal.
Sebanyak itu anak muda putus sekolah, sebanyak itu pula anak muda Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Tidak sedikit pula dari mereka yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri. “Tapi saya nggak punya uang untuk sekolah ke luar negeri…”, itu keluhan yang paling sering muncul. Lagi-lagi kendala dana, sudah bisa dipastikan. Jangan angkat pendapat “Memangnya pendidikan dalam negeri jelek?”. Bukan itu bahasan kali ini. Bahasan saya kali ini adalah bagaimana caranya mendanai pendidikan kita di luar negeri dengan dana Rp 0,- dari kantung kita sendiri.
OK, so you want to study abroad but you don’t have the fund! Heck, let somebody pays for it! Bagaimana caranya? Pilihan pertama: cari beasiswa (of course, duh?). Di mana? Di mana-mana. Paling komplit ya di internet. Browse semua situs yang berkaitan dengan beasiswa. “Tapi bahkan situsnya apa, saya nggak tau… Gimana dong…”. Kalau ini komentar Anda, pikir sekali lagi apakah studi lanjut memang yang Anda inginkan? Kalau ya, Anda tentu tidak akan memiliki mentalitas seperti itu - mentalitas ‘gimana dong?’… Karena bisa jadi keinginan utamanya bukan studi lanjut, melainkan yang penting tinggal di luar negeri. Kalau itu alasannya, silakan cari: 1. bule yang bersedia dinikahi supaya Anda dapat greencard, 2. kerjaan di kapal pesiar, lalu ketika kapal merapat di dermaga negara yang Anda inginkan, silakan turun dan segera kabur lalu menetap secara ilegal, atau 3. cari lotere visa greencard (sementara ini hanya Amerika Serikat yang menyelenggarakan). Tapi lagi-lagi, bahasan saya bukan bagaimana caranya bisa tinggal di luar negeri, melainkan bagaimana sekolah di luar negeri dan pembiayaannya dari pihak lain. Kita tadi sampai pada pilihan: cari informasi beasiswa di berbagai situs di internet. Bisa silakan menggunakan google, atau bisa kunjungi beberapa daftar situs beasiswa berikut ini:
Beasiswa Ford Foundation (USA)
Beasiswa Endeavour (Australia)
Beasiswa Nuffic NFP - PhD (The Netherland)
Kalau ingin yang lebih komplit lagi, silakan kunjungi situs bank data beasiswa yang saya temui ini, lumayan lengkap isinya. Atau silakan juga coba situs ini, yang juga lumayan lengkap. Itu apabila Anda ingin menggunakan sumber dana beasiswa, yang biasanya berarti tugas utama Anda adalah belajar sebaik mungkin tanpa harus melakukan pekerjaan apapun. Hanya yang perlu Anda catat adalah bahwa kompetisi untuk mendapatkan beasiswa tentunya tidak tanpa perjuangan yang berat. Kompetisinya sangat intens, khususnya untuk beasiswa di negara-negara yang English-speaking. Bagaimana dengan negara-negara yang non-English speaking? Yang pasti kompetisinya tidak seketat beasiswa negara English-speaking. Salah satu faktornya adalah kendala bahasa, artinya tidak banyak orang bisa menguasai bahasa asing lain selain Inggris. Bahasa Inggris hampir semua orang paham, tapi yang menguasai bahasa Spanyol jelas lebih sedikit persentasenya di Indonesia. Sehingga kompetisi untuk mendapatkan beasiswa ke Spanyol misalnya, lebih longgar daripada kompetisi untuk mendapatkan beasiswa seperti AusAid, Fulbright, dsb.
Mendapatkan beasiswa butuh pengorbanan dan kegigihan yang besar. Dilarang patah semangat! Saya sudah 6 tahun mencoba beasiswa AusAid dan tidak pernah lolos (pernah satu kali dipanggil untuk wawancara, tapi tetap tidak menjadi grantee). Saya juga 5 tahun berturut-turut mencoba beasiswa Fulbright dan alhamdulillah baru di tahun ke-5 ini akhrinya gol juga. Kalau menuruti kata hati saya, di tahun ketiga, rasanya saya sudah hilang semangat. Saya saat itu tidak tertarik untuk melanjutkan perjuangan ke tahun-tahun berikutnya, tapi kemudian saya pikir, apa salahnya? Kalau sudah menjadi rejeki kita, tentu tidak akan lari ke mana pun, tapi memang rejeki itu harus dicari dengan ikhtiar. Ikhtiar saya 5-6 tahun. Mungkin ada yang ikhtiarnya cukup 1 tahun dan langsung dapat (seperti waktu saya dapat beasiswa ke Spanyol 3 tahun lalu, yang kemudian tidak saya ambil..). Setiap orang kasusnya berbeda-beda sehingga kata kunci yang lain di sini adalah: dilarang putus asa di tengah jalan!
Apa saja yang harus Anda persiapkan sebelum aplikasi beasiswa? Yang pasti untuk amannya, segera ukur kemampuan bahasa Inggris Anda dengan TOEFL atau IELTS juga bisa. Untuk menghemat biaya, Anda bisa mengambil TOEFL-like test (orang bilang TOEFL2an), atau institutional TOEFL, sebelum akhirnya - jika skor Anda sudah mengalami kemajuan yang signifikan - mengambil international TOEFL. Memang beberapa beasiswa tidak mengharuskan international TOEFL - contohnya AusAid, institutional TOEFL saja sudah cukup untuk saringan pertama karena selanjutnya jika Anda shortlisted, Anda akan diminta untuk tes IELTS (gratis didanai oleh pihak AusAid). Fulbright juga tidak mengaruskan international TOEFL, institutional sudah cukup karena setelah terpilih/shortlisted, Anda akan diminta tes lagi - gratis.
Bagaimana dengan beasiswa di non-English speaking countries? Jelas, siasatilah dengan mulai kursus berbagai macam bahasa selain bahasa Inggris, sebanyak mungkin untuk memperbesar peluang Anda mendapatkan beasiswa di negara non-English speaking. Saya, sebagai contoh, saking semangat ‘45-nya, sewaktu masih sibuk mencari beasiswa, saya belajar/kursus 3 bahasa sekaligus: Spanyol, Jerman, dan Belanda. Konyolnya, saking bingungnya, kadang-kadang saya tertukar bahasa: pada saat bicara bahasa Spanyol, ada kata2 bahasa Jerman yang ‘nyelip’ tanpa sengaja, atau pada saat bicara bahasa Belanda, ada kata2 bahasa Spanyol numpang lewat. Kacau memang, tapi itu bukan masalah besar. It’s worth the result! Sehingga ketika ada lowongan beasiswa ke Jerman, Spanyol dan Belanda, saya sudah siap dengan skor hasil tes kemampuan bahasa Oh ya, masing-masing juga punya tes standar kemampuan bahasa sehingga ada baiknya untuk mengambil tes tersebut. Oleh karenanya, kursusnya sebaiknya diprogram paling tidak 1 tahun sebelum aplikasi beasiswa, jadi ada waktu cukup untuk menguasai bahasanya dan lolos syarat skor minimal tes standar kemampuan bahasanya. (Catatan: untuk bahasa Spanyol, sebaiknya sudah lolos DELE 2; bahasa Jerman Mittelstuffe dari Goethe Institut).
———- bersambung ———-
Saturday, March 15, 2008
The "Cash Please" Trap
Setelah makan malam di resto "P*****Y" yang berlokasi di kawasan utara kota Yogyakarta, saya minta bon tagihan makan malam saya. Malam itu, saya tidak membawa uang tunai. Saya santai-santai saja karena saya tahu bahwa resto tersebut menerima pembayaran kartu kredit dan sekarang ini tahun 2008, pembayaran kartu kredit bahkan lebih populer daripada pembayaran dalam bentuk tunai. Saya serahkan kartu kredit saya bersama bon tagihan. Sesaat kemudian, pramusaji senior yang sama (dengan kejadian sebelumnya) kembali kepada saya dan berkata, "Maaf bu, untuk voucher koneksi internet tolong dibayar tunai saja. Hanya Rp 20.000,-." (Sebagai referensi, silakan baca posting sebelum ini - Red.) Wah! Seingat saya di dompet saya hanya ada beberapa lembar ribuan dan selembar lima ribuan. Jelas tidak cukup. Saya tanya apakah tidak bisa digabung saja dengan tagihan makan malam dan dibayar dengan kartu kredit. Jawabnya "Tidak". Lalu saya balik bertanya, "Terus gimana dong, mbak? Solusinya apa dong? Saya sama sekali nggak bawa uang tunai. Kok jadi repot gini mbak?" Pramusaji tadi tidak memberikan solusi apapun dan hanya mematung dan mengulang-ulang informasi tidak bisanya voucher tersebut dibayar dengan kartu kredit. Saya juga mematung. Kita adu mematung. Ia kalah karena sesaat kemudian ia kembali menuju ke bagian kasir dan menghabiskan waktu yang cukup lama dengan kasir senior di sana.
Untuk waktu yang cukup lama saya juga kebingungan dan agak jengkel. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.45, apakah saya seorang pelanggan tetap yang katanya adalah 'raja', 'tamu istimewa' harus keluar mencari ATM terdekat, mengambil uang tunai untuk membayar sejumlah Rp 20.000,- di malam yang semakin larut? Lalu apa gunanya tanda major credit cards accepted di pintu masuk dan meja kasir? Kenapa saya tidak diberitahu di awal tadi bahwa voucher harus dibayar tunai? Untuk beberapa menit yang lama saya lihat sang pramusaji masih berkonsultasi dengan sang kasir. Tidak ada restaurant manager yang sedang bertugas malam itu sehingga tidak ada yang bisa menyelesaikan masalah saya. Semua hanya diserahkan kepada karyawan - pramusaji dan kasir. Tentu saja suatu hal yang tidak lazim (kalau kata-kata "tidak profesional" terdengar menyinggung perasaan sang empunya resto) untuk resto sekaliber "P*****Y".
Akhirnya, saya keluarkan ribuan-ribuan lusuh dari dompet saya, semua uang receh baik dari dompet maupun yang terserak di dalam tas. Semuanya belum mencapai angka Rp 20.000,-. Saya menuju ke area parkir, masuk ke mobil dan membongkar semua kantong yang ada di dalam mobil dan alhamdulillah saya temukan lagi selembar uang lima ribuan. Semuanya mencapai angka yang Rp 20.000,-.
Menuju kasir dengan membawa uang recehan saya temui sang kasir dan pramusaji yang tersenyum kecut. Kasir yang ramah itu mengatakan, "Tidak apa2 Bu, tagihan vouchernya masuk kartu kredit saja." Saya jawab,"Sudahlah mbak, ini hasil gresek-gresek sana sini dapat 20 ribu." Wajah saya cukup tegang karena berusaha menahan rasa jengkel. Mereka meminta maaf atas ketidaknyamanan itu. Haha, klise.. Saya tidak berkomentar. Saya tandatangani lembar kartu kredit dan berlalu menuju kendaraan untuk meluncur pulang dengan hati galau dan jengkel.
Bagaimana menurut Anda, apakah ini juga termasuk praktek yang tidak etis?
Friday, March 14, 2008
The "Shut Down Wi-Fi " Trap
Ada beberapa hal yang membuat saya rajin mengunjungi resto ini. Hal-hal tersebut antara lain: cita rasa makanannya yang lumayan enak, tempatnya yang cukup nyaman, kopi yang juga nikmat, serta yang pasti koneksi wifi yang cukup bagus. Lokasinya pun dekat dengan rumah tinggal saya. What can I ask for more?
Malam itu, ada dua kondisi yang menyebabkan saya menjatuhkan pilihan ke "P" Resto: 1) saya kelaparan berat dan 2) saya perlu mengerjakan sesuatu yang mengharuskan saya terkoneksi ke internet. Bisa saja saya surfing dari rumah, tapi kebetulan malam itu saya tidak masak jadi tidak ada yang bisa dimakan sementara perut memainkan orkestra keroncong dengan sangat indahnya. Singkat kata saya akhirnya memutuskan untuk ke "P".
Dengan langkah mantap saya masuk ke dalam resto dan disambut dengan hangat oleh para pramusaji. Setelah duduk, saya memesan pizza, sebotol air mineral, dan kopi hitam panas, sembari mengeluarkan laptop tua saya. Ketika saya mencoba koneksi ke internet dengan koneksi gratis dari "P" Resto seperti biasanya, ternyata koneksi tersebut tidak tersedia. Justru yang tersedia adalah koneksi dari provider terkenal juga "I". Saya kemudian bertanya kepada pramusaji apakah koneksi wifi "P" sudah diaktifkan (seringkali lupa belum diaktifkan sehingga tidak tersedia koneksi tersebut). Pramusaji dengan ramah mengatakan kepada saya bahwa ia akan menanyakan hal tersebut kepada supervisor-nya.
Setelah beberapa saat, ia kembali dan menyampaikan kepada saya bahwa untuk sementara koneksinya sedang 'down'. Saya kecewa karena tujuan saya kemari adalah mengerjakan sesuatu yang menurut saya penting dan memerlukan koneksi internet (plus fakta bahwa saya lapar dan ingin makan di tempat ini juga). Kemudian saya mengajukan pertanyaan bodoh kepadanya, " Sampai kapan down-nya?" Haha, pertanyaan bodoh macam apa ini, tentu saja ia tidak tahu. Kemudian ia kembali lagi pada supervisornya, bertanya, dan kembali kepada saya dan menyampaikan bahwa tidak ada kepastian sampai kapan. Wah...jelas saya kecewa sekali. Bukan salah si pramusaji tentu saja. Lalu saya putuskan untuk membatalkan order dengan tentu saja sebelumnya saya tanya dulu ke pramusaji apakah masih mungkin untuk membatalkan order? Saya pikir lebih baik saya pulang saja dan beli nasi Padang dalam perjalan pulang untuk makan di rumah. Dengan lari-lari kecil, pramusaji yunior itu kembali ke supervisor-nya. Kasihan juga dia..
Sejurus kemudian, datanglah pramusaji yang lebih senior dengan membawakan semua pesanan saya. Hm, heran saya, cepat sekali pesanan saya tiba. Padahal lead time-nya hanya 5-10 menit dari waktu pesan tadi. Tapi baiklah, biarkan saja. Sang senior bertanya, "Ada yang bisa saya bantu, Bu?". Saya sampaikan kepadanya bahwa ternyata koneksi tidak tersedia padahal saya perlu sekali untuk terhubung ke internet. Lalu, ia menawarkan untuk membeli voucher "I" kepada saya. Ia bilang kalau bill saya sampai Rp 100.000,-, maka harga voucher itu hanya Rp 10.000,-, tapi kalau bill saya hanya Rp 75.000, maka harga voucher itu Rp 15.000,-. Sedangkan jika bill saya di bawah Rp 75.000,- maka harga voucher itu menjadi rp 20.000,- (untuk penggunaan 6 jam). Karena terdesak, akhirnya saya belilah voucher itu, dengan harga Rp 20.000,- karena saya yakin bill saya di bawah Rp 75.000,-. Datanglah voucher tersebut dan melalui serangkaian ritual seperti input username (yang panjang sekali) dan password, akhirnya saya terkoneksi.
Selama 5-10 menit pertama, koneksi putus-putus. Setiap saya membuka halaman baru, koneksi terputus dan mengharuskan saya menginput lagi username dan password yang aduhai panjangnya. Tiba-tiba, saya iseng melihat ketersediaan koneksi yang lain dan voila, muncullah koneksi wifi yang gratis seperti biasanya itu. Segera saja saya pindah menggunakan koneksi tersbeut dan sampai selesai koneksi tersebut lancar-lancar saja, tidak bermasalah. Saya membayar sejumlah Rp 20.000,- untuk koneksi yang justru memecahkan masalah dengan masalah.
Nah, saya persilakan Anda-Anda untuk berpendapat, apakah kejadian tersebut masuk ke dalam kategori unethical business practices atau tidak.
